Selasa, 13 Maret 2012

Sejarah Manajemen SDM

Pada abad ke XVIII Masehi, para buruh bangunan membentuk serikat pekerja. Serikat pekerja yang mereka bentuk kemudian memperbaiki kondisi kerja mereka.
Sampai pada akhirnya muncul revolusi industri di Inggris pada akhir abad ke 18 yang meletakkan dasar bagi masyarakat industri baru yang lebih kompleks. Dalam revolusi indutsri, cara kerja yang sepenuhnya menggunakan tenaga manusia mulai diganti dengan tenaga uap dan tenaga mesin.

Sebagai dampaknya, kondisi kerja, pola hubungan sosial, dan pembagian kerja berubah secara signifikan. Perubahan yang pada akhirnya membuat jarak antara pekerja dan pemilik perusahaan semakin lebar.

Pada 1920 terjadilah konflik berkepanjangan antara pekerja dengan para pengusaha. Guna mengatasi konflik tersebut, muncullah sistem welfare secretaries dalam manajemen perusahaan.

Welfare secretaries bertugas menjembatani jarak antara manajemen dan pekerja. WS memiliki tugas utamanya memikirkan cara-cara perumusan kebutuhan ekonomi para pekerja dan mencegah jangan sampai para pekerja membentuk serikat pekerja.

Akhirnya para pekerja mulai merasakan bantuan dalam penanganan berbagai masalah yang berkaitan dengan kesejahteraan, seperti pendidikan, perumahan dan kesehatan. Dengan lahirnya banyak organisasi yang berskala besar, para manajer puncak tidak lagi mampu dan tidak punya waktu untuk menangani sendiri masalah-masalah kesejahteraan para pekerjanya, oleh karena itu diperlukan sekretaris kesejahteraan.

Sekretaris kesejahteraan tersebut akhirnya menjadi cikal bakal departemen personalia. Namun, personalia tidak sama dengan Manajemen Sumber Daya Manusia.

Personalia hanya dipandang sebagai unit tukang catat dan memberikan lencana penghargaan atau tanda jasa dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan wisata tahunan perusahaan.

Kemudian, fungsi manajemen sumber daya manusia yang sederhana dalam manajemen personalia tersebut berubah seiring dengan semakin berkembangnya skala perusahaan dan semakin kompleksnya permasalahan personalian perusahaan.

Manajemen sumber daya manusia sendiri mencakup keseluruhan kebijakan, praktek, dan sistem untuk mengelola sumber daya manusia dalam organisasi dengan cara yang paling efektif untuk mencapai baik tujuan organisasional maupun individu.

Manajemen sumber daya manusia
meliputi keseluruhan keputusan dan praktek manajemen yang secara langsung berdampak atau mempengaruhi orang-orang yang bekerja untuk organisasi. Sedangkan keseluruhan keputusan dan praktek manajemen meliputi: perencanaan sumber daya manusia dan analisis jabatan; masukan organisasional; pengembangan produktivitas sumber daya manusia; penilaian kinerja dan sistem penghargaan; dan menjaga agar sumber daya manusia tetap  awet (sustain) bekerja dalam organisasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar